Ki Gede Sebayu

Tokoh Ki Gede Sebayu

Tokoh Ki Gede Sebayu

Tegal bermula dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Sumber lain mengatakan, asal nama Tegal dipercaya berasal dari kata Teteguall. Yaitu sebuah sebutan yang diberikan oleh seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500-an (Suputro, 1955). Namun sejarah wilayah Kabupaten Tegal tak dapat dilepaskan dari sosok ketokohan Ki Gede Sebayu. Nama beliau dikaitkan dengan trah atau silsilah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput ( yang kelak bernama Pangeran Onje) merupakan keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih berkaitan dengan keturunan dinasti Majapahit (Sugeng Priyadi, 2002).

Tlatah atau wilayah Tegal juga tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan jaman dulu, khususnya yang dibangun di tlatah atau wilayah Sunda. Misalnya Kerajaan Galuh Kawali yang wilayah kekuasaannya mencakup lebih dari setengah wilayah Jawa Tengah sekarang, termasuk wilayah Tegal dan Banyumas. Ki Gede Sebayu merupakan putra ke 22 dari 90 saudara. Beliau memiliki 2 orang anak yaitu, Raden Ayu Giyanti Subalaksana yang kelak menjadi istri Pangeran Selarong (Pangeran Purbaya) dan Ki Gede Honggobuwono.


Juru Demung Ki Gede Sebayu

Antara abad ke 10 sampai 16, wilayah Tegal memiliki sistem pemerintahan atau dikuasai oleh kerajaan kecil. Sebab menurut catatan Rijklof van Goens dan data di buku W. Fruin Mees, disebutkan pada tahun sekitar 1575 wilayah tersebut termasuk wilayah merdeka dengan dipimpin oleh raja kecil atau pangeran. Pendapat tersebut juga didukung di buku The History of Java karya Raffles. Dalam Buku tersebut mengatakan bahwa ada kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Mandaraka (ada juga yang menyebut Kerajaan Salya) di sekitar wilayah Tegal.

Kerajaan Mataram mulai menguasai wilayah Tegal setelah penyerangan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Seda Krapyak. Sebagai bagian dari pada Kerajaan Mataram, wilayah Tegal pun mendapat status Kadipaten pada hari Rabu Kliwon tanggal 18 Mei 1601. Dan Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Juru Demang (setingkat Tumenggung) oleh Panembahan Senopati (penguasa Mataram). Pada jaman perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830), menurut catatan P.J.F. Louw dalam bukunya De Java Oorlog Uan, tlatah atau wilayah Tegal dipimpin oleh Residen Uan Den Poet.

Tinggalkan Balasan